Agen Jamu Gendong ( Ke berapa sih? Lali Aku)
Jumi angguk-angguk geleng-geleng mendengar penjelasan dari Uda Samsul.
“Sek sek. Aku mau periksa Mbing dulu.”
Jumi melangkah ke arah kandang tempat Mbing berada. Perlahan dia merogoh di antara belahan dada di dalem kembennya lalu mengeluarkan klintingan dari Yu Lasmi.
“Sek yo Mbing, kamu pakai ini dulu”. Sigap dia memakaikan alat tersebut.
Mbeeeekk…
“Loh kok masih mbek yo suarane?” Jumi mengernyit. Lagi lagi dia tertipu. Kambing hitam itu bukan lah Mbing kesayangannya.
“Uda, ini bukan Mbing aku. Kok mirip sekali? Tatonya pun sama” Tanya Jumi pada Uda Samsul sambil dia mengeluarkan gelas translater tadi.
“Aku tidak tau Jum. Tapi aku dengar, memang ada banyak pemilik yang membawa kambingnya ke salon kecantikan. Mereka ingin kambingnya dibuat mirip dengan kambingmu itu.” Begitu tulisan yg tertera di dasar gelas.
“Loh,untuk apa tho?”
“Kamu bagaimana Jum. Kan Mbing mu itu jadi juara Kambing Idol tahun lalu.Para pemilik kambing tergiur karena harga jualnya lebih tinggi kalau mirip dengan Mbing mu.”
“Oalahdalah…” Jumi menepok jidatnya yang jenong dua kali.
“Jum, aku tau kamu harus minta bantuan pada siapa untuk mencari kambing kesayanganmu itu.”
Jumi langsung sumringah. “Sopo tho?”
“Sebentar, aku suruh dulu dia ke sini. Kebetulan dia sedang ada di daerah sini, mencari Monyetnya yg hilang juga. Aku sekalian ke belakang. Kebelet!” ucap Uda Samsul sambil memicing-micing menahan mulas yg rupanya sudah sedari tadi dia rasakan.
Jumi merapikan peralatan spionasenya kembali ke dalam kemben ketika Uda Samsul melangkah ke belakang.
“Hoy Mbok Jum. Apa kabar?” ucap satu suara.
Jumi menengadah. Di depannya berdiri seorang bocah perempuan bersepatu olahraga. Memakai kaos warna pink. Celana pendek berwarna oranye. Lengkap dengan tas ransel warna ungu di punggung. Poninya yg tebal menutupi seluruh dahinya.
“Dora??”
“Iya Mbok Jum, Dora.”
“Kamu ngapain tho di sini?”
“Boots hilang. Jejak terakhir mengarah ke sini.”
“Eits, tunggu2, kamu kan bukan orang Indonesia. Kok fasih?”
“Mbok Jum bagaimana tho. Kan aku dibekali jam tangan dubber sama Yu Lasmi. Makanya, di Negara mana pun aku berada, otomatis langsung didubbing.”
Dora ini termasuk salah satu langganan tetap Yu Lasmi. Paling sering sih, meng-update memory si Peta. Maklum lah, sekarang banyak jalan2 baru. Kalau ngga di update, bisa nyasar si Dora.
“Pantes moncongmu kok beda sama suara yg keluar.”
Dora duduk di depan Jumi yang masih sibuk merapikan kemben dan bakulnya.
“Kata Uda Samsul, Mbok Jum juga butuh bantuan mencari seseorang?”
“Iya. Kambing kesayangan aku hilang, aku curiga diculik.”
“Si Mbing?”
“Ya ho ‘oh.”
“Loh aku sempat bertemu dengan Mbing. Dia bukan diculik Mbok. Dia cuma butuh menenangkan diri katanya. “
“Menenangkan diri dari apa? Kok dia ndak ngomong tho sama aku?”
“Namanya juga lagi patah hati Mbok. Dia cerita banyak. Katanya, cinta matinya, si bulu putih kambing Nyai Onih, tiba2 memutuskan hubungan. Dia lebih memilih untuk kawin sama kambing bandot tua Haji Madalih.”
“Oalahdalah.” Jumi kembali menepuk jidat jenongnya dua kali.
“Baiklah. Mari kita tanya pada temanku Si Peta.”
Dora kemudian melepas ransel. Dan menyembullah Si Peta dari baliknya.
“Kamu kok masih pakai alat itu sih? Ga ketinggalan jaman?”
“Aku sudah minta diganti Mbok. Aku minta dibuatkan GPS Teleporter sama Yu Lasmi. Tapi ngga disetujui. Takut aku teleport ke kamar mandi para pria katanya.”
Jumi tertawa sambil geleng-geleng. Ada ada saja.
“Baiklah Peta, tolong tunjukan di mana Mbing berada.”
“Kamu mencari di mana Mbing berada?”
“Iya!!” sahut Dora dan Jumi berbarengan.
“ Mbing ada di Tebing Patah Hati.Apakah kamu mau tau bagaimana menuju ke sana?”
“Iya !!” sahut Jumi dan Dora sekali lagi berbarengan.
“Untuk sampai ke sana, kamu harus melewati Sungai Sorangan, Lembah Kesunyian,Tebing Patah Hati.”
Jumi mengangguk angguk.
“Sudah hapal Mbok Jum?”
“Iya, sudah. Kalau begitu, aku berangkat sekarang. Jangan sampai aku telat dan si Mbing bunuh diri karena putus cinta.”
“Oke Mbok. Tapi Mbok harus tahu satu hal. Mbing bukan yang dulu lagi. Dia merubah total penampilannya. Jangan kaget.”
“ Ooo, gitu tho. Tenang, aku punya klintingan untuk membuktikan apa dia benar2 Mbing kesayanganku.”
Jumi berdiri, mengusap-usap kemben di dadanya kiri dan kanan. Tak lama, keluar tonjolan kecil dari keduanya, sebesar buah cherry. Hanya saja berwarna hitam. Dia putar keduanya searah jarum jam, lalu di tekan kedua ujungnya.
Tak lama,
Zingggggg…..
Dari bakul, menyeruak sebatang besi sepanjang 1 meter ke arah atas kepalanya. Ujung2nya membuka lalu keluar lempengan menyerupai sayap pesawat.
“ya ampun, keren banget JetPack nya. Sekali kali aku diajak terbang ya.” Ucap Dora
“Gampang”
Jumi sekali lagi menepok jidatnya yg jenong. Kenapa dari sebelum2nya ga pakai ini saja. Kenapa harus ngos-ngosan lari-lari.
“Dora aku pergi dulu yo. Semoga Boots cepat ketemu.”
Dari kejauhan Jumi bisa melihat Dora mengangguk.
Jumi memacu JetPacknya dengan cara mengusap2 telapak tangan ke tonjolan di dadanya tadi. Semakin cepat dia mengusap, semakin kencang lajunya. Sampai-sampai, bibirnya mencong-mencong tertiup angin saking kencangnya dia melaju.
Dari atas awan, dia bisa melihat Sungai Sorangan. Kemudian Lembah Kesunyian. Lalu tempat yang dia tuju. Tebing Patah Hati. Dia berputar-putar sebentar. Mencari tanda-tanda keberadaan Mbing.
Dan di sana lah dia. Di sebuah batang pohon yang melintang. Meskipun penampilannya sudah sangat jauh berbeda, tapi dia bisa merasakan. Itu memang dia. Mbing kesayangannya.Tapi…..Mbing jadi bule.

